The Owner

My photo
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hi! Welcome to Gristia's whole world. I'm 18, a student who majoring statistics, traveler in part time, teenager in full time. More about me? Let's be friend just contact me on my web. Enjoy ;)

Tuesday, September 15, 2015

Exploring Lemukutan Island

Yeay so I wanna post something superduper latepost hahaha
Jadi liburan semester kemarin nge-trip ceritanya. Semester 2 emang cukup buat gila so we need to refresh our poor brain -_-

Pulau Lemukutan... yap pulau yang lumayan booming selama 2 tahun terakhir ini. Pulau ini letaknya di Kabupaten Bengkayang. Sebenarnya udah dari dulu banget kepengen main ke pulau cuma ga nemu kesempatan. Kebetulan abang mendadak ngajak ke lemukutan with his gf n the geng. Gak mau buang buang kesempatan dan langsung meng-iya kan ajakannya yeayyy

Mau review dan explore sedikit nih tentang pulau lemukutan yang masya Allah indah banget!
Jadi first destination itu otw dari pontianak ke karimunting dulu dari jam 6 pagi berangkatnya. Kita nyebrang lewat dermaga di Pantai Samudera (karimunting). Nyampai di pantai samudera sekitar jam 9 pagi. Pontianak-Karimunting gak terlalu jauh sih. Kita nyebrang naik kapal motor gitu. Oh iya fyi kalo mau naik kapal motornya itu mesti pesan dulu via telpon. Lanjut...nyebrang lewat teluk suak sampai di lemukutan kirakira perlu 2 jam perjalanan tergantung kondisi ombak jugaa. Sampainya di lemukutan kita berlabuh di dermaga Teluk Cina. Fyi guys, pulau lemukutan ini besaaaaar sekali. ada banyak dermaga ternyata. Sampainya disana I really wondering that beautiful Island wow.



Here we goooo





Here we goooo!
Disini kita masang tenda. Di porok. Agak di ujung pulau. Jauh dari pemukiman penduduk. Tapi disini lumayan lah tempatnya. Ada WC umum. Ada pondok kecil. Ada sumber mata air bersih jugaa. Cuma sayangnya gak ada listrik guys disini.


Sumber mata air bersih (air gunung) masya Allah jernih banget guys. Jadi masak makanan dan minum langsung tanpa dimasak dulu. Nyuci mandi segala macem bisa pake air iniii.









Selfie in the morning. Ini hari kedua (hari terakhir haha) Tenang, senang, damai, tentram, rasanya gamau pulang.

Take a breakfast. Sederhana dan seadanya buat bertahan hidup

I do apologize -_-v



After snorkeling. Ciptaan-Nya memang luar biasa.

Laut disini masih alamiii banget. Bening kayak kaca. Ikan, terumbu karang, ubur ubur macem macem semuanya masih alami. Ga bakal nyesel deh snorkeling disini. Okee sekian aja ya review nyaa. Oh iya kalo mau berwisata ke lemukutan ini recomended banget deh buat yang pengen liburan asik tapi dana lagi pas pasan. Lumayan murah deh pokoknya :D
Cuma mau ngingetin lagi nih tetep jaga kebersihan lingkungan yaa, ati ati banget kalo snorkeling jangan sampai ngerusak terumbu karang. As we know, terumbu karang itu dilindungi. Terumbu karang tumbuh 1 cm setiap tahunnya. Kebayang dong kalo keinjak terumbu karang 3 cm? Butuh 3 tahun buat ngegantinya :(

2hari 1malam gak puas rasanya. Jadi mutusin buat kesini lagi deeeh. Nantikan post exploring lemukutan part 2 ya! to be continue ^_^

Ciptaan-Nya memang luar biasa. Jadilah pencinta alam-Nya, bukan sekedar penikmat alam.


Tuesday, September 1, 2015

My 1st April

Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam.
Dan yang paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.

Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur hanya karena kerikil kecil.

Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.

Badai yang besar harusnya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusia yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa angin badai.

Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.

Sebuah cinta, semestinya lebih digdaya dari badai dan kerikil yang melanda.

Kepada kamu, genggam tanganku. Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.

-@landakgaul