The Owner

My photo
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
Hi! Welcome to Gristia's whole world. I'm 18, a student who majoring statistics, traveler in part time, teenager in full time. More about me? Let's be friend just contact me on my web. Enjoy ;)

Wednesday, June 23, 2010

Mengapa Orang Jepang "Gila" Kerja?

Posted Today at 01:07 PM by Gristiia

Pada dasarnya, etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh berbeda dengan bangsa Asia lainnya. Jika bangsa Jepang disebut pekerja keras, maka bangsa Cina, Korea, dan bangsa Asia lainnya juga pekerja keras. Tapi kenapa bangsa Jepang yang lebih berhasil dan maju dibandingkan bangsa Asia lainnya? Bagaimana dengan budaya kerja di Indonesia?

Faktor keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja yang tinggi. Meskipun mereka bekerja tidak diawasi, bukan berarti bermalas-malasan. Tidak. Buat orang Jepang, setiap pekerjaan dilakukan dengan penuh disiplin dan dedikasi. Orang yang tidak memiliki disiplin tinggi dianggap tidak layak bekerja dengan mereka. Orang Jepang tidak bisa berkompromi dengan hal yang berkaitan dengan disiplin. Hal itu mirip dengan sebagian masyarakat Indonesia yang tidak bisa berkompromi dengan hal yang berkaitan dengan adat.

Disiplin itulah yang membentuk sikap dan semangat kerja keras pada bangsa Jepang. Disiplin juga menjadikan mereka patuh pada perusahaan dan mau melakukan apa pun demi keberhasilan perusahaan mereka. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharapkan bayaran.

Hal itu berbeda dengan budaya kerja kebanyakan orang di negara-negara lain. Biasanya, para pekerja hanya bersedia bekerja lembur jika diberikan bayaran dan insentif lainnya. Jika tidak, maka mereka tidak bekerja dengan sungguh-sungguh.

Keadaan seperti itu tidak terjadi di Jepang. Di sana, setiap pekerja memberi perhatian penuh dan fokus pada pekerjaan mereka. Bagi orang Jepang, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Mereka mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.

Orang Jepang selalu mengaitkan kerja dengan harga diri. Jika mengalami kegagalan, maka bukan organisasi dan perusahaan yang menanggung malu, melainkan para pekerja yang akan merasa malu dan kehilangan harga diri. Jadi, untuk menjaga harga diri, nama, dan citra diri yang baik, mereka harus memastikan keberhasilan organisasi dan perusahaan.

Tak heran, bila orang Jepang sanggup bekerja mati-matian untuk memajukan perusahaan dan organisasinya. Mereka senang jika disebut sebagai pekerja keras. Mereka merasa dihargai jika diberikan pekerjaan dan tugas yang berat. Sebaliknya, mereka merasa terhina dan tidak berguna jika tidak diberikan suatu pekerjaan yang menantang. Orang Jepang rela menghabiskan waktu mereka di tempat kerja daripada pulang lebih cepat ke rumah.

Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat. Sebagian dari kita menganggap pulang bekerja lebih cepat merupakan suatu cerminan status sosial yang lebih tinggi. Hal itu berbeda dengan pandangan orang Jepang. Di Jepang, orang yang pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif. Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.

Namun, bukan berarti orang Jepang tidak mempunyai masa bersantai. Mereka bersantai setelah selesai bekerja. Yang mengherankan adalah orang Jepang selalu datang ke tempat kerja tepat waktu. Meskipun pada malam harinya mereka bersenang-senang di tempat hiburan dan terkadang minum sampai mabuk. Mereka selalu datang tepat waktu dan bekerja seperti biasa.

Budaya kerja lainnya yang harus dipelajari dari orang Jepang selain disiplin adalah, jujur, rajin, giat, bersemangat, berinovasi, berkreasi, terbuka dan bertanggung jawab dan sikap positif lainnya. Bagaimana dengan budaya kerja Indonesia?

Orang Jepang menamakan dirinya dengan sikap gila kerja, dibanding sikap dan kebiasaan lain yang negatif seperti; bermalasan, santai, tidak jujur, tidak kreatif dan tidak bertanggung jawab. Hal ini tercermin dalam identitas bangsa Jepang yang produktif dan telah diakui oleh semua bangsa di dunia.

Dahulu, kita sudah mengenal budaya kerja orang Jepang yang menerapkan mutu serta kualitas dengan cara TQC (Total Quality Control), TQM (Total Quality Manajemen), Quality Assurance, Value Added Management, Work Improvement Team, yang merupakan bagian dari budaya kerja dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Kemudian seorang ahli dari Asian Institute of Management yaitu Prof. Emil P.Bolongaita, JR mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya mampu mengakomodasikan pengalaman manajemen pemerintah dengan pengalaman manajemen bisnis dalam sebuah kombinasi dalam pelayanan yang disebut Total Quality Governance (TQG).

Kejayaan tersebut memposisikan mereka sejajar dengan bangsa Barat. Jika dilihat dari segi fisik, tubuh orang Jepang lebih kecil dibandingkan bangsa Asia Iainnya. Bahkan, ukuran fisik mereka tidak sebanding dengan ukuran fisik orang Barat. Meskipun demikian, bangsa Jepang adalah bangsa yang maju. Sebenarnya, sikap disiplin bangsa Jepang tidak ada bandingannya. Mereka golongan pekerja yang paling disiplin.

Mengikuti sikap contoh diatas, memang tak semudah kita membalikkan tangan. Bukannya tidak mungkin. Semua membutuhkan proses untuk mencapai itu dan membututhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab kita harus mengubah sikap dan membangun nilai serta kebiasaan baru, sudut pandang lama atau paradigma lama yang masih melekat dalam beberapa genarasi. Bila kita tidak mengubah maka, bangsa kita tetap dianggap rendah oleh bangsa lain.

Mari kita ciptakan budaya kerja bermutu dan menjadikan kerja sebagai suatu hal yang lebih menyenangkan dari kegiatan lainnya.

3 comments:

  1. saatnya saya bilang WAW, bagus banget artikelnya nih jadi bikin tambah semangat bekerja.

    ReplyDelete
  2. Mantap benar benar ! Suatu saat begitu saya berhasil menerapkan budaya ini pada usaha saya , dan membuat usaha saya sukses besar,maka saya akan traktir penulis blog ni berlibur ke bali, tunggulah

    ReplyDelete
  3. Mantap benar benar ! Suatu saat begitu saya berhasil menerapkan budaya ini pada usaha saya , dan membuat usaha saya sukses besar,maka saya akan traktir penulis blog ni berlibur ke bali, tunggulah

    ReplyDelete